Jakarta, Arina.id — Cendekiawan Muslim Fahrudin Faiz mengungkapkan bahwa hakikat kemenangan Idul Fitri tidak hanya berhenti pada keberhasilan menahan lapar dan dahaga selama Ramadgan, namun juga tercermin pada perubahan batin yang menghadirkan aura ketenangan dalam diri seseorang.
Dia menjelaskan, Idul Fitri adalah momentum falah atau kemenangan sejati, yakni keberhasilan manusia dalam menaklukkan dirinya sendiri, sesuatu yang disebutnya sebagai “perang paling berat” dalam kehidupan.
“Jadi Idul Fitri itu momen falah, momen kemenangan. Jadi kemenangan atas apa? Kemenangan atas diri kita sendiri sebenarnya. Karena perang paling berat itu perang melawan diri kita,” ujarnya dalam tayangan akun Youtube Mengaji Hening diakses Minggu (22/3/2026).
Konsep kemenangan dalam Islam, lanjut dia, tidak bisa dilepaskan dari ibadah. Bahkan dalam azan, umat Islam diajak menuju kemenangan melalui seruan hayya ‘alal falah. Kemenangan itu terwujud ketika seseorang mampu menjalankan ibadah dengan kesungguhan dan ketundukan hati.
“Kalau kita hati kita terbuka kemudian secara serius khusyuk khudu salat itu berarti kita menang atas diri kita. Puasa juga begitu. Kalau sebulan penuh kita mampu menaklukkan diri, menaklukkan hawa nafsu kita, baik lahiriah maupun batiniah, itu begitu datang Idul Fitri, itulah saat kemenangan kita,” jelasnya.
Fahrudin menegaskan, pemaknaan Idul Fitri sebagai “kebebasan” sering kali keliru jika hanya dimaknai sebagai bebas makan dan minum. Ia menilai istilah kemenangan jauh lebih tepat untuk menggambarkan esensi hari raya tersebut.
“Jadi lebih pas menurut saya dimaknai kemenangan meskipun ada yang memaknai kebebasan,” katanya.
Dua sikap utama
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa kesadaran atas kemenangan spiritual tersebut akan melahirkan dua sikap utama, yakni farah (kegembiraan) dan syukur. Kedua hal ini, menurutnya, menjadi pintu masuk menuju transformasi batin yang lebih dalam.
“Yang pertama farah. Farah itu kegembiraan. Yang kedua, syukur. Nah, terima kasih kepada Allah karena capaian-capaian kita apa pun itu kan hakikatnya pertolongan dan bantuan dari Allah,” ungkapnya.
Dari kegembiraan yang lahir karena keberhasilan menjalankan kebaikan, seseorang akan mencapai sa’adah, yaitu kebahagiaan sejati yang bersifat spiritual, bukan sekadar kesenangan sesaat.
“Banyak orang yang mungkin merasa bahagia, tapi karena basis kebahagiaannya bukan sesuatu yang hakiki. Biasanya bahagianya gak lama. Jadi biasanya ini kita mendefinisikannya bukan kebahagiaan tapi kesenangan,” tuturnya.
Di sisi lain, rasa syukur yang mendalam akan melahirkan qurbah, yakni kedekatan dengan Allah. Dalam kondisi ini, seseorang merasakan kehadiran dan kasih sayang Tuhan dalam setiap capaian hidupnya.
“Nah, ini melahirkan apa? Rasa dekat dengan Allah. Kita merasa, ‘Ya Allah, berarti Engkau memang sangat cinta padaku. Aku Engkau buka hatiku, engkau beri hidayah aku, beri aku kekuatan sampai aku bisa menang,’” jelasnya.
Munculnya muthmainah
Fahrudin menambahkan, perpaduan antara kebahagiaan spiritual (sa’adah) dan kedekatan dengan Allah (qurbah) akan mengantarkan seseorang pada kondisi jiwa yang tenang, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut nafsul mutmainnah.
“Kombinasi antara saadah dan kurbah, jadi kebahagiaan yang luar biasa diiringi dengan rasa sangat dekat dengan Allah. Itulah nanti yang melahirkan mutmainah, jiwa yang tenang, stabil, nyaman dalam kebenaran, dalam kebaikan,” paparnya.
Ia menekankan, jiwa yang telah mencapai tingkat mutmainnah tidak mudah tergoyahkan oleh godaan. Orientasi hidupnya telah sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Menariknya, menurut Fahrudin, kondisi batin tersebut tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga memancar keluar dalam bentuk “aura” yang bisa dirasakan oleh orang lain, terutama pada momentum Idul Fitri.
“Karena kita bahagia dan dekat dengan Allah, akhirnya kita mutmain. Jadi auranya orang yang Idul Fitri, yang sejati itu justru aura yang menenangkan. Jadi aura yang mutmainah,” ujarnya.
Ia menggambarkan suasana Idul Fitri sebagai momen ketika kegembiraan, rasa syukur, dan kedekatan spiritual berpadu, sehingga menciptakan suasana sosial yang hangat dan menenangkan.
“Hawanya itu menggembirakan. Kita saling berdekatan itu kan saling nyaman, saling gembira. Karena jiwa-jiwa kita baru dekat-dekatnya dengan Allah, baru cerah-cerahnya bahagianya dan mutmainnah,” lanjutnya.
Menurutnya, perubahan suasana tersebut bahkan dapat dirasakan secara kolektif, seolah-olah ada “vibrasi” yang berbeda ketika Idul Fitri tiba.
“Seperti seolah-olah situasi vibrasi aura sekeliling kita berubah drastis. Karena di situ kita sedang masuk momen kemenangan yang menggembirakan, penuh rasa syukur. Rasa dekat dengan Allah terasa sekali dan penuh kebahagiaan. Di situlah mutmainah,” pungkasnya.
Dengan demikian, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan puncak perjalanan spiritual yang ditandai dengan hadirnya ketenangan jiwa—yang tidak hanya dirasakan, tetapi juga terpancar dalam sikap dan kehadiran seseorang di tengah masyarakat.
Editor:


