Langit malam bagi Dr. H. M. Basthoni, M.H. bukan sekadar hamparan bintang yang berkilau, namun juga 'kitab terbuka' yang menyimpan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Dari lorong-lorong pesantren di Nganjuk hingga ruang-ruang kuliah di Semarang, langkahnya tak pernah lepas dari semangat mencari makna di balik waktu, arah, dan cahaya.
Kini, sosok yang dikenal sebagai seorang dosen luar biasa di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu menjelma menjadi salah satu nama penting dalam dunia ilmu falak Indonesia; sebuah bidang yang menautkan langit dengan bumi, sains dengan iman, dan logika dengan ketundukan spiritual.
Jejak Awal Sang Pencari Ilmu
Di balik sosoknya yang tenang dan bersahaja, Basthoni menyimpan semangat besar untuk mengabdi melalui ilmu pengetahuan.
Sejak kecil, ia telah dijiwai oleh satu prinsip yang ditanamkan kedua orang tuanya: menuntut ilmu bukan untuk gelar atau jabatan, melainkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah serta umat.
"Mungkin prinsip itulah yang menuntun syaa selanjutnya melangkah dari pesantren ke kampus, dari ruang kelas ke langit luas ilmu falak," ujarnya rendah hati.
Basthoni lahir di Nganjuk, 16 November 1977. Sejak kecil, ia telah terbiasa berjalan hampir satu kilometer setiap hari untuk belajar agama kepada guru pertamanya, KH Ghozali Kholil.
"Dari sosok Kiai Ghozali Kholil saya belajar makna keikhlasan, kesungguhan, dan integritas dalam menuntut ilmu," kata dia. "Belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi perjuangan yang harus dijalani dengan sepenuh hati," tegasnya.
Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah pada 1996, ia melanjutkan pendalaman ilmu di Pondok Pesantren Al-Islah Mangkang Kulon, Kota Semarang.
"Saya di pesantren tidak hanya mempelajari kitab kuning, tetapi juga membentuk karakter: disiplin, tanggung jawab, dan semangat pengabdian yang terus menuntun langkahnya hingga kini," lanjut Busthoni.
Menapaki Dunia Akademik
Langkah berikutnya membawa Basthoni ke Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, mengambil jurusan Muamalah dengan konsentrasi Hukum Islam.
"Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I) ini sebagai jalan untuk mengabdi di dunia pendidikan," katanya.
Namun, kecintaannya pada ilmu tidak berhenti di situ. Ia mulai tertarik pada bidang yang menggabungkan sains dan agama, ilmu falak, sebuah disiplin yang memadukan astronomi dan syariat Islam.
"Pada 2003, setelah lulus sarjana, saya mulai mengajar di Madrasah Tsanawiyah NU 05 Sunan Katong Kaliwungu sebagai guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)," cerita dia.
Meski berlatar belakang ilmu agama, Basthoni memiliki dasar kuat dalam biologi, matematika, dan fisika. Ia bahkan dikenal piawai mengajar komputer, bidang yang memang menarik perhatiannya sejak muda.
Dari Madrasah ke Dunia Falak
Panggilan hati akhirnya mengantarkan Basthoni pada jalan ilmu falak. Tahun 2006, ia kembali kuliah di Universitas Stikubank (UNISBANK) Semarang, mengambil Program Studi Ilmu Teknologi, dan lulus pada 2009.
Semangatnya untuk memahami keteraturan alam semesta sejalan dengan keinginannya untuk memperdalam falak sebagai bagian dari sains Islam.
"Seiring berkembangnya kajian falak di perguruan tinggi sejak 2007 saya melihat adanya peluang untuk menjembatani sains modern dan tradisi keagamaan," lanjutnya.
Tahun 2010, ia juga mengajar matematika di Madrasah Aliyah Nurul Huda Mangkang, mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Universitas Negeri Semarang, hingga memperoleh sertifikasi guru profesional pada 2012.
Menyelami Langit Ilmu Falak
Tahun 2015 menjadi babak baru dalam perjalanan akademiknya. Merasa perlu mengembangkan bidang falak secara lebih mendalam, Basthoni meminta izin kepada yayasan untuk melanjutkan studi.
"Alhamdulillah keputusan itu mendapat restu penuh, terlebih karena dukungan keluarga saya menikahi keponakan KH Khador, yang juga guru saya," kata Basthoni.
Dalam penelitian falak, Basthoni dikenal teliti dan tekun. Ia meneliti data gerhana matahari menggunakan data dari NASA, melakukan observasi fajar selama 1.600 hari, dan menghasilkan kajian ilmiah yang kemudian menjadi rujukan Kementerian Agama RI.
Atas kontribusinya, pada tahun 2021 ia diangkat menjadi anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI.
Selain aktif di Kemenag, ia juga dikenal sebagai dosen luar biasa di UIN Walisongo Semarang, tempat ia turut mengembangkan keilmuan falak di kalangan mahasiswa dan akademisi muda.
Memimpin Lembaga Falakiyah NU
Basthoni juga dipercaya memimpin Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah, lembaga yang menjadi garda depan pengembangan ilmu falak di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Di bawah kepemimpinannya, lembaga ini semakin aktif melakukan pelatihan rukyat, penelitian astronomi Islam, serta menjalin kolaborasi antara pesantren, kampus, dan pemerintah.
Baginya, ilmu falak harus dikelola secara sistematik, terukur, dan aplikatif. Tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga penting melakukan observasi langsung di lapangan, agar hasil perhitungan dapat menjadi rujukan akurat bagi pelaksanaan ibadah umat.
Melatih Generasi Penerus
Sebagai akademisi dan praktisi, Basthoni dikenal sebagai mentor yang rendah hati dan mudah didekati.
"Saya membentuk komunitas mahasiswa bernama Kawakib, wadah pembinaan generasi muda pecinta falak yang rutin menggelar pelatihan dan diskusi," tuturnya.
Pendekatannya sederhana namun dalam: tidak ada orang bodoh atau pintar, yang ada hanya orang yang serius belajar dan yang belum serius belajar. Filosofi ini menjadi ruh pembelajarannya, membuat banyak mahasiswa merasa nyaman belajar bersamanya.
Filosofi dan Cahaya Ilmu
Bagi Basthoni, ilmu bukan sekadar hitungan atau rumus, melainkan cahaya yang menerangi keimanan dan akhlak. Ilmu falak, baginya, harus mampu menjawab persoalan umat dan menjadi dasar bagi ketepatan waktu ibadah.
Ketelitian, kesabaran, dan keikhlasan adalah kunci utama dalam mengelola ilmu ini, karena dari sanalah lahir keyakinan yang benar dan bermanfaat bagi umat.
Sikap rendah hati dan keterbukaan Basthoni membuatnya dihormati lintas kalangan, baik di pesantren, kampus, maupun organisasi keagamaan. Ia dikenal bukan hanya sebagai ilmuwan, tetapi juga sebagai sosok yang menebarkan keteduhan dan semangat belajar.
Meniti Langit dan Harapan
Dari seorang anak desa yang berjalan satu kilometer untuk mengaji, hingga menjadi ahli falak dan dosen luar biasa di universitas ternama, perjalanan Basthoni adalah kisah ketekunan yang menginspirasi.
Gelar akademik dan jabatan tidak membuatnya berhenti belajar. Ia terus meneliti, menulis, dan mengajar, karena baginya, ilmu adalah jalan pengabdian tanpa akhir.
Jejak perjuangan Dr. H. M. Basthoni, M.H menjadi warisan berharga bagi dunia akademik dan keagamaan. Ia membuktikan bahwa integrasi antara ilmu modern dan tradisi pesantren bukan sekadar mungkin, tetapi harus menjadi jembatan masa depan.
“Ilmu falak,” katanya suatu kali, “harus terus berkembang dan menjadi pondasi kokoh dalam kehidupan beragama umat Islam di Indonesia.”
Melalui tangan-tangan tekun seperti Basthoni, tradisi keilmuan terus hidup, menyesuaikan zaman, tanpa kehilangan arah menuju cahaya kebenaran.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


