Hari Buku Nasional adalah momen yang tepat untuk merayakan kecintaan terhadap literasi. Kita bisa melakukan banyak aktivitas yang berpusat pada buku. Menonton bisa menjadi jembatan yang mendekatkan kita dengan bacaan. Banyak karya sinema yang mengangkat kisah tentang buku, penulis, atau perjalanan intelektual yang menginspirasi.
Dari adaptasi novel klasik hingga film yang menyoroti kekuatan membaca dalam membentuk kehidupan, sinema menawarkan cara unik untuk menikmati dunia literasi dalam bentuk audio visual. Dalam tulisan ini, kita akan menjelajahi delapan film inspiratif yang tidak hanya merayakan keunikan buku tetapi juga meneguhkan peran literasi dalam kehidupan kita.
1. The Reader
The Reader (Stephen Daldry, 2008) adalah film drama romantis yang mengisahkan hubungan antara Michael Berg, seorang remaja Jerman dan Hanna Schmitz, seorang wanita misterius yang jauh lebih tua darinya. Hubungan mereka dipenuhi dengan sesi membaca, adegan paling ikonik adalah saat mereka menatap buku di kamar mandi.
Dalam The Reader, buku memiliki peran yang sangat penting sebagai simbol pengetahuan, kekuasaan, dan keterbatasan. Bagi Hanna, buku adalah sesuatu yang ia dambakan tetapi tidak bisa ia akses karena ketidakmampuannya membaca. Ia meminta Michael membacakan buku untuknya sebagai cara untuk menikmati dunia sastra yang tidak bisa ia jelajahi sendiri.
Michael rutin membacakan berbagai karya sastra untuk Hanna dengan kebahagiaan. Namun, Hanna tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Bertahun-tahun kemudian, Michael yang telah menjadi mahasiswa hukum menemukan Hanna sebagai terdakwa dalam persidangan kejahatan perang Nazi. Rahasia besar yang terungkap dalam persidangan mengubah cara Michael melihat masa lalu mereka dan menimbulkan dilema moral yang mendalam.
2. Jumbo
Film animasi terbaik Indonesia juga melibatkan buku dalam ceritanya. Jumbo (Ryan Adriandhy, 2025) adalah film fantasi yang mengangkat tema persahabatan, keberanian, dan pentingnya cerita dalam membentuk identitas seseorang. Film ini mengikuti perjalanan Don, seorang anak yatim piatu yang memiliki keterikatan emosional dengan buku dongeng peninggalan orang tuanya. Buku tersebut bukan hanya sekadar kumpulan cerita, tetapi juga menjadi simbol harapan dan penghubung dengan masa lalunya.
Dalam film, buku dongeng yang selalu dibawa Don berperan sebagai sumber inspirasi dan kekuatan. Don sering membacakan kisah-kisah dari buku itu kepada teman-temannya, meskipun sering diejek karena obsesinya terhadap cerita yang sama. Ketika buku tersebut dicuri oleh Atta, Don merasa kehilangan bagian penting dari dirinya. Pencarian buku itu menjadi titik balik dalam perjalanan Don, membawanya bertemu dengan Meri, seorang peri kecil yang juga mencari keluarganya.
Buku dalam film Jumbo membawa pesan pembentukan keluarga, warisan intelektual, imajinasi, dan keberanian untuk bermimpi.
3. Little Women
Little Women (2019) yang disutradarai oleh Greta Gerwig merupakan film adaptasi dari novel klasik Louisa May Alcott yang menceritakan kisah empat saudara perempuan dari keluarga March yang hidup di Amerika Serikat pasca-Perang Saudara. Keempat saudara itu bernama Meg, Jo, Beth, dan Amy yang menghadapi tantangan hidup dengan mimpi, ambisi, dan karakter yang berbeda.
Jo bercita-cita menjadi penulis, Meg memilih kehidupan rumah tangga yang sederhana, Beth memiliki jiwa yang lembut, sementara Amy bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Dalam film ini, buku memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam perjalanan Jo sebagai seorang penulis.
Buku menjadi simbol kebebasan berpikir dan ekspresi diri yang memungkinkan Jo untuk menantang norma sosial yang membatasi perempuan. Ia menulis tentang kehidupan dan pengalaman keluarganya yang akhirnya berkembang menjadi novel Little Women. Buku juga berfungsi sebagai alat pendidikan dan inspirasi bagi saudari-saudarinya, membantu mereka memahami dunia dan mengejar impian mereka.
Film ini menyoroti bagaimana sastra dapat menjadi sarana pemberdayaan, memungkinkan seseorang untuk menemukan suara mereka sendiri dan berbagi kisah hidup yang selalu layak untuk diperjuangkan.
4. The Book Thief
The Book Thief (Brian Percival, 2013) merupakan film adaptasi dari novel karya Markus Zusak, berlatar di Jerman saat Perang Dunia II. Kisahnya mengangkat perjalanan Liesel Meminger, seorang gadis muda yang diadopsi oleh pasangan Hans dan Rosa Hubermann setelah kehilangan keluarganya.
Liesel menemukan pelarian dalam dunia buku, meskipun awalnya ia tidak bisa membaca. Dengan bantuan Hans, ia belajar membaca dan mulai mencuri buku dari berbagai tempat, termasuk dari upacara pembakaran buku Nazi.
Di tengah perang yang semakin mencekam, keluarga Hubermann menyembunyikan Max Vandenburg, seorang Yahudi yang melarikan diri dari kejaran Nazi. Persahabatan antara Liesel dan Max semakin memperkuat kecintaannya terhadap kata-kata dan cerita. Namun, perang membawa konsekuensi yang tak terhindarkan bagi mereka semua. Film ini menggambarkan kekuatan literasi, keberanian, dan harapan di tengah kegelapan sejarah.
5. Good Will Hunting
Good Will Hunting (Gus Van Sant,1997) merupakan film drama tentang Will Hunting, seorang jenius matematika yang bekerja sebagai petugas kebersihan di MIT. Meskipun memiliki kecerdasan luar biasa, Will lebih memilih menjalani hidup sederhana bersama teman-temannya dan sering terlibat dalam masalah hukum.
Ketika Profesor Gerald Lambeau menemukan bakat Will, ia berusaha membimbingnya dengan bantuan psikolog Sean Maguire. Melalui sesi terapi yang penuh tantangan, Will mulai menengok kembali masa lalunya yang penuh luka dan belajar untuk menerima potensi dirinya. Film ini menyoroti perjalanan emosional Will dalam menemukan makna hidup, persahabatan, dan keberanian untuk berubah.
Dalam Film Good Will Hunting, buku memegang peran penting sebagai simbol pengetahuan dan eksplorasi diri. Will adalah seorang otodidak yang memperoleh kecerdasannya melalui membaca berbagai buku, bukan dari pendidikan formal. Buku menjadi alat bagi Will untuk memahami dunia dan mengembangkan pemikirannya. Ada begitu banyak adegan yang menampilkan buku dalam banyak persoalan hidup.
6. Dead Poet Society
Dead Poets Society (1989) merupakan film drama klasik yang disutradarai Peter Weir dan dibintangi oleh Robin Williams sebagai John Keating, seorang guru sastra yang menginspirasi para murid untuk keluar dari pemikiran yang kaku dan seragam.
Keating mengajarkan para muridnya untuk melihat kehidupan secara berbeda dengan filosofi carpe diem (raih hari ini) dan menekankan pentingnya berpikir kritis serta keberanian untuk mengikuti passion mereka. Ia memperkenalkan klub rahasia Dead Poets Society yang memotivasi para siswa untuk mengeksplorasi puisi, seni, dan impian mereka.
Dalam film ini, buku—khususnya buku puisi—memiliki peran penting sebagai alat pembebasan intelektual dan emosional. Keating mendorong murid-muridnya untuk membaca dan memahami puisi dengan cara yang lebih personal, bukan sekadar mengikuti aturan akademik. Ia bahkan meminta mereka merobek halaman buku teks yang dianggap membatasi kreativitas.
Buku dalam Dead Poets Society menjadi simbol kebebasan berpikir dan ekspresi diri, membantu para siswa menemukan suara mereka sendiri dan berani menghadapi tekanan sosial. Namun, ide-ide revolusioner Keating membawa konflik dengan nilai-nilai tradisional sekolah dan keluarga siswa, yang berujung pada tragedi.
Film ini mendorong penonton untuk berpikir kembali mengenai tema-tema kebebasan, individualisme, dan keberanian di hadapan sistem pendidikan. Dead Poets Society adalah karya yang berkesan dan relevan hingga kini.
7. Perfect Days
Perfect Days (2023) adalah film drama Jepang yang disutradarai oleh Wim Wenders. Film ini mengikuti kisah Hirayama, seorang pria paruh baya yang bekerja sebagai petugas kebersihan toilet umum di Tokyo. Meskipun hidupnya tampak sederhana dan penuh rutinitas, Hirayama menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil misalnya mendengarkan musik kaset lawas, membaca buku, dan mengabadikan langit Tokyo dengan kamera analognya.
Hirayama menjadikan buku sebagai teman hidup yang membantunya menikmati waktu sendiri. Melalui buku ia menemukan makna dalam kehidupan sederhana, dan memperdalam pemahamannya tentang dunia.
8. Matilda
Matilda (Danny DeVito, 1996) adalah film komedi fantasi yang diadaptasi dari novel karya Roald Dahl. Film ini mengangkat kisah Matilda Wormwood, seorang gadis kecil yang jenius pecinta buku dan memiliki kemampuan telekinetik. Sayangnya, ia tumbuh dalam keluarga yang tidak menghargai kecerdasannya dan sering mengabaikannya.
Buku dalam film Matilda memiliki peran yang sangat penting sebagai simbol kebebasan dan kekuatan intelektual. Matilda menggunakan buku sebagai cara untuk memahami dunia dan melarikan diri dari lingkungan yang tidak mendukungnya.
Buku juga menjadi kekuatan yang membantunya menemukan keberanian untuk menghadapi segala masalah dan bertemu dengan orang-orang yang menghargainya sebagai manusia. Film ini menghadirkan kisah inspiratif tentang keberanian, kecerdasan, dan kekuatan seorang anak dalam menghadapi dunia yang tidak selalu adil.
Editor:


